Eko Chodox.
Cocok dengan kompresi sekarang
ManiakMotor – Pakai piston KDX
diameter 66 mm dan langkah piston standar (54,4 mm) Kawasaki Ninja 150 RR
dipacu Eko Chodox, dapat 180 cc. Volume ini yang memompa Chodox melompati
FFA dragbike, di mana pun event 201 meter dia ikut. Di Pertamina Dragbike
(PD) Senayan baru lalu, dicetak 6,971 detik.
Katanya
sih, catatan begitu sudah pernah dan bahkan lebih kilat. Sesuai data tiga seri
PD 2012, catatan itu yang tercepat di event tersebut. Sekali lagi, hanya
untuk seri PD.
Diameter piston bertambah, ruang silinder membesar yang
disebut bore-up. Boleh menampung bahan bakar lebih banyak
atau volumetriknya naik. Hasilnya, adalah power. “Pakai piston KDX harus
ganti liner, karena standar Ninja tidak boleh dikorter. Penyesuaiannya
dikerjakan pisau bubut di bengkel,” kata Muhammad
Yusron Supriyanto.
Yusron adalah mekanik Kickstart
Baitech dari Bandung, Jawa Barat, pengorek Ninja yang dipacu Chodox. Tapi dia keberatan sebut lebih detil soal liner. Itu dapur bengkelnya.
Iya, masak sih hanya kenalpot Ninja yang ngebul, dapur benaran harus ikut
ngebul juga dong. Bisa diusir istri dari rumah dia, kalau gak berasap-asap.
KOMPRESI
Kompresi 6,8:1,
SuperKIPSS dimatikan
Ninja ini
memang banyak rahasia. Misteri! Atau memang maniakmotor.com yang
kurang gaul, ndak bisa mengorek keterangan. Dasar web baru, katro!
Katanya kompresi 6,8:1. Itu sih standar Ninja 150 RR yang disiram bensin.
Logikanya dengan bahan bakar bensol di dragbike, kompresi harusnya di
atas itu. Toh, kebutuhannya hanya untuk trek lurus.
“Saya juga nggak bisa kasih ukuran buret head
dan celah atau nat deck clearace kepala silinder. Cuma squis
12º. Lebar lubang buang 42 mm (trapesium) dan tinggi lubang buang 29,9 mm,”
tambah Yusron seperti bermatematika. Haha, makin gelap rumus mencari kompresi,
seperti cat hitam Ninja si Chodox. Hasil buret dalam pengukuran kompresi
disebut combustion chamber (vc) yang harus ada angkanya.
Tinggi lubang buang menyusut 5,1 mm dari standar, bisa
jadi kompresi memang segitu. Kan angka stroke dalam kompresi 2-tak ala Jepang,
dihitung dari bibir lubang buang (s). “Kompresi segitu, cocok buat saya.
Momentum rpm-nya pas. Jika lebih tinggi atau rendah, feeling meleset,”
jelas Chodox yang aslinya dari Semarang, Jateng itu.
MASUK KELUAR
Karbu PWK Sudco
38 mm
Suplain bahan bakar dilayani karbu Keihin PWK Sudco 38 mm. Karbu gambot ini disetting dengan main-jet 175 dan pilot-jet 60. Komposisi itu tidak banyak berubah intervalnya setiap ganti sirkuit.
Kecepatan bahan bakar dilayani reed vale V-Force3 bersama rumahnya. Inilah katup buluh tercanggih saat ini yang bekerja efisien lantaran pakai lidah karbon. Ditambah crank-case atau ruang kruk-as ikut dipadatkan dengan menambal ruang-ruang kosong. Hasilnya kompresi bawah atau kompresi awal lebih kuat.
Sudut-sudut lubang inlet semuanya mengarah satu titik pada kepala silinder. Kan itu fungsinya squis, dia menyambut aliran kabut dari lubang transfer dan bilas. Lalu diantar ke ruang bakar terpusat di kubah head dan saat sama dikompresi piston. Sama dengan pantat silinder dibentuk sisi-sisinya tajam jadi satu arah dengan transfer, bilas dan squis.
Semua berhubungan, termasuk kenalpot KDX di Ninja Chodox yang keluar dari kiri. Di mesin dua langkah,
30 persen kinerja mesin ditentukan kenalpot. Untuk penggemar Ninja
kebut-kebutan, jelas KDX telah teruji mengolah tubelensi gas buang yang
matang dan mentah.
Ban IRC Eat My Dust memang
lagi populer di kebut lurus. Komponnya pas menerima tenaga yang
gila-gilaan di FFA. Di kelas bebas saja mampu meneruskan daya, apalagi
di kelas di bawahnya. “Rata-rata belakang menggunakan ban itu. Karena
kualitas komponnya bagus dan ukurannya pas,” imbuh Chodox.
DATA MODIFIKASI
CDI : Standar Ninjaa 150 RR
Magnet pengapian : Standar korek (900 gram)
Perbandingan gir : 17/35
Sokbreker belakang : Gazi
Ban depan : IRC Eat My Dust 50/90-17
Ban belakang : IRC Eat My Dust 60/70-17
Sokbreker belakang : GAZI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar